Lappung – Provinsi Lampung diproyeksikan memegang peran vital sebagai tulang punggung swasembada pangan nasional pada tahun 2025.
Di tengah tekanan inflasi global dan ketergantungan impor, Bumi Ruwa Jurai dinilai memiliki kesiapan infrastruktur dan komoditas strategis untuk menopang kebutuhan pangan Indonesia.
Baca juga : Potensi Ekonomi Lampung yang Menunggu Sentuhan
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menegaskan bahwa Lampung saat ini adalah “kartu as” bagi ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah kini satu suara dalam mendorong transformasi pertanian di wilayah ini.
“Lampung kembali menjadi harapan. Kita diminta memainkan peran lebih besar untuk swasembada 2025.
“Ini momentum, apalagi target produksi jagung tahun ini sangat ambisius, mencapai 1,5 juta ton,” ujar Mahendra Utama, Senin, 8 Desember 2025.
Pergeseran ke Komoditas Jagung
Mahendra menyoroti adanya perubahan tren pola tanam yang signifikan di tingkat petani.
Jika sebelumnya Lampung sangat identik dengan singkong, kini narasi tersebut perlahan bergeser ke jagung.
Hal ini didorong oleh permintaan pasar yang melonjak, baik untuk konsumsi pangan maupun industri pakan ternak.
Untuk mencapai target 1,5 juta ton tersebut, Mahendra menyebut Gubernur Lampung telah turun tangan mengampanyekan gerakan tanam serentak.
Namun, ia menekankan bahwa semangat petani saja tidak cukup tanpa jaminan pasar.
“Petani mulai berani migrasi dari singkong ke jagung karena ekosistemnya disiapkan. Benih unggul ada, alat ada, dan yang paling penting pasarnya jelas.
“Kerjasama dengan Bulog dan perusahaan pakan ternak besar seperti Japfa dan Charoen Pokphand membuat harga lebih terjamin,” jelas Mahendra.
Baca juga : Lampung di Simpang Jalan: Ketika Pertumbuhan Ekonomi Tak Berjalan Seiring dengan Kualitas Kerja
Infrastruktur Pompanisasi Jadi Kunci
Dalam pengamatannya, keberhasilan peningkatan indeks pertanaman (IP) di Lampung tidak lepas dari intervensi teknologi.
Kementerian Pertanian dinilai agresif dalam membangun sistem pompanisasi di lahan tadah hujan dan merehabilitasi jaringan irigasi.
“Bicara produksi, kuncinya di air. Program pompanisasi ini sangat membantu saat musim kemarau, sehingga petani tidak sepenuhnya bergantung pada hujan.
“Ditambah bantuan alsintan seperti combine harvester, efisiensi panen jadi lebih baik,” tambahnya.
Jaga Komoditas Ekspor
Meski fokus pada padi dan jagung, Mahendra mengingatkan bahwa Lampung memiliki keunikan karena mampu bermain di “dua kaki”.
Selain pangan pokok, komoditas perkebunan bernilai ekspor tinggi seperti kopi robusta, lada, nanas, dan tebu tetap menjadi andalan ekonomi daerah.
“Lampung tidak melupakan komoditas emas hitam (lada) dan kopi robusta yang sudah mendunia.
“Ini kelebihan kita, bisa swasembada pangan sekaligus menjaga devisa ekspor,” kata dia.
Tantangan Regenerasi Petani
Kendati optimis, Mahendra memberikan catatan kritis terkait tantangan yang harus diwaspadai menjelang 2025.
Selain faktor perubahan iklim yang sulit diprediksi, isu regenerasi petani menjadi sorotan utama. Minat anak muda untuk terjun ke sektor pertanian dinilai masih perlu didorong lebih kuat.
Ia juga mengingatkan pemerintah agar program ini berkelanjutan, bukan sekadar mengejar angka di atas kertas.
“Jangan sampai target swasembada ini hanya euforia sesaat. Petani harus merasakan dampak ekonomi riil.
“Kalau pendapatan mereka naik dan pasarnya dijaga konsisten, swasembada 2025 bukan lagi mimpi,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Jurus Diplomasi Ekonomi Prabowo: Kemitraan Kapal Rp87 Triliun, Solusi Win-Win RI-Inggris





Lappung Media Network