Lappung.COM – Simak artikel OpiniMahe edisi kali ini, yang berjudul: Lampung Kembangkan 11 Ribu Hektare Kakao Dukung Hilirisasi.
Lampung Kembangkan 11 Ribu Hektare Kakao Dukung Hilirisasi
Oleh: Mahendra Utama*
Orkestrasi Gubernur Lampung Dorong Hilirisasi Kakao
Provinsi Lampung mengambil langkah strategis dengan mengembangkan komoditas kakao seluas 11 ribu hektare pada tahun 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya serius mendukung program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah pusat.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, memainkan peran penting dalam mengorkestrasi kebijakan ini melalui pendekatan intensif kepada Kementerian Pertanian.
“Lampung memiliki potensi kakao yang luar biasa. Kami tidak boleh hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi harus naik kelas menjadi produsen produk turunan kakao yang bernilai tambah,” tegas Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dalam berbagai kesempatan.
Lobi Strategis di Kementerian Pertanian
Orkestrasi Gubernur Rahmat Mirzani Djausal membuahkan hasil nyata. Melalui lobi yang intensif kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Wamen Pertanian Sudaryono (yang saat itu menjabat sebelum menjadi Kepala BGN), serta Dirjen Perkebunan, Lampung berhasil mendapatkan alokasi bantuan bibit perkebunan kakao sebesar 7.450 hektare dengan nilai bantuan mencapai Rp9,88 miliar.
Data dari Dinas Perkebunan Lampung menunjukkan program pengembangan kakao 11 ribu hektare terdiri dari kegiatan peremajaan dan perluasan area tanam.
Perluasan lahan difokuskan di Kabupaten Mesuji (1.500 hektare) dan Tulang Bawang Barat (1.000 hektare). Sementara peremajaan dilakukan di Kabupaten Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Lampung Barat, dan Tulang Bawang Barat.
Arahan Tegas untuk Kadis Perkebunan
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal memberikan arahan khusus kepada Kepala Dinas Perkebunan Lampung, Desti Arisandi, agar perkebunan kopi dan kakao menjadi fokus program unggulan daerah.
“Lampung adalah salah satu sentra dua komoditas ekspor ini. Kita harus serius mengelolanya dengan pendekatan bisnis yang modern dan berkelanjutan,” ujar Gubernur dalam rapat koordinasi internal.
Arahan ini sejalan dengan teori pembangunan berbasis komoditas unggulan (commodity-based development) yang menekankan pentingnya fokus pada sektor-sektor dengan keunggulan komparatif daerah.
Desti Arisandi menyambut baik arahan tersebut dan menegaskan komitmennya untuk menjadikan kakao sebagai komoditas unggulan.
“Harapannya melalui program pengembangan kakao ini, produksi makin bertambah serta hilirisasi komoditas kakao Lampung dapat berjalan dengan baik,” jelasnya.
Teori Hilirisasi dan Nilai Tambah
Program ini mengimplementasikan teori hilirisasi industri yang dikemukakan para ekonom pembangunan, di mana pengolahan produk primer di dalam negeri dapat meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Dengan luas lahan kakao mencapai 11 ribu hektare, Lampung memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri pengolahan kakao yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, sejalan dengan visi besar Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menjadikan Lampung sebagai pusat industri kakao di Sumatera. (*)
—————————————————————-
* Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan.




Lappung Media Network