Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Metropolitan » Menelaah Kritik terhadap Kabinet dan Program Prioritas: Antara Idealisme dan Realitas Politik

    Menelaah Kritik terhadap Kabinet dan Program Prioritas: Antara Idealisme dan Realitas Politik

    by Irzon Dwi Darma
    21/01/2026
    in Metropolitan
    Menelaah Kritik terhadap Kabinet dan Program Prioritas: Antara Idealisme dan Realitas Politik

    Infografis Dialektika Kebijakan: Membedah struktur logika, data anggaran, dan realitas sistem pemerintahan di balik polemik kabinet serta program prioritas. Foto: Arsip Lappung/I/DBS

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung – Label akomodasi feodal hingga tudingan bagi-bagi kekuasaan yang belakangan santer diarahkan pada postur kabinet pemerintahan saat ini, dinilai menyimpang dari konteks sistem ketatanegaraan.

    Kritik-kritik tersebut dianggap melompat pada kesimpulan tanpa membedah akar persoalan yang sebenarnya, yakni realitas sistem presidensial multipartai di Indonesia.

    Baca juga : Langkah Tegas Presiden Prabowo di Sumatera: Mengembalikan Keseimbangan Lingkungan dan Keadilan

    Penilaian ini disampaikan oleh Eksponen 98, Mahendra Utama, dalam keterangannya, Rabu, 21 Januari 2026.

    Ia menyoroti maraknya penggunaan logika yang keliru atau logical fallacy dalam diskursus publik terkait kebijakan strategis pemerintah, mulai dari penyusunan kabinet hingga program prioritas.

    “Banyak pihak terjebak pada premis yang cacat. Seolah-olah karena kita menganut sistem presidensial,

    “Presiden bisa jalan sendiri tanpa dukungan parlemen. Padahal realitas politiknya tidak sehitam-putih itu,” tegas Mahendra.

    Dilema Presidensial Multipartai

    Menurut Mahendra, fragmentasi politik yang tinggi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memaksa setiap presiden terpilih untuk bersikap realistis.

    Tidak adanya partai mayoritas tunggal membuat pembentukan koalisi besar menjadi sebuah keniscayaan, bukan sekadar keinginan politik.

    Ia menjelaskan bahwa tanpa dukungan legislatif yang kuat, pemerintahan rentan mengalami kebuntuan (gridlock).

    Program-program strategis hingga pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bisa terhambat jika perahu koalisi tidak cukup besar untuk mengamankan suara di parlemen.

    “Mengkritik kabinet besar tanpa melihat penyebab utamanya yaitu sistem multipartai kita adalah kekeliruan dalam membaca sebab-akibat.

    “Presiden butuh stabilitas untuk menjamin checks and balances tetap berjalan efektif, bukan sekadar bagi-bagi kursi,” urainya.

    Jebakan Dikotomi Palsu Program Prioritas

    Selain isu struktur pemerintahan, Mahendra juga menyoroti pola kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis yang dinilainya kerap membenturkan dua hal yang sebenarnya bisa berjalan beriringan.

    Baca juga : Prabowo Beri Mandat Tempur BP3R ke Fahri Hamzah

    Ia menyebut hal ini sebagai false dichotomy atau dikotomi palsu.

    Publik sering digiring pada pilihan semu, memilih bantuan langsung (makan gratis) atau pemberdayaan struktural (petani/nelayan).

    “Logikanya dipatahkan seolah kalau pilih A, pasti mengorbankan B. Padahal spektrum kebijakan itu luas.

    “Mengatasi stunting hari ini dengan makan bergizi tidak serta-merta menghentikan agenda reforma agraria jangka panjang.

    “Keduanya adalah strategi komprehensif, bukan pilihan yang saling mematikan,” jelas Mahendra.

    Sentimen Utang dan Ketakutan Berlebih

    Terkait kekhawatiran soal pembengkakan anggaran, Mahendra meminta para pengkritik untuk tidak terburu-buru melakukan generalisasi (hasty generalization).

    Ia optimis, ruang fiskal Indonesia masih mampu menopang program tersebut melalui intensifikasi pajak, optimalisasi aset, dan efisiensi pos anggaran lain, tanpa harus serta-merta memvonis negara akan bangkrut karena utang.

    Ia juga menepis anggapan bahwa program berskala masif ini otomatis akan dikuasai korporasi besar dan mematikan ekonomi rakyat (slippery slope fallacy).

    “Pemerintah sudah punya skema pelibatan UMKM dan koperasi desa.

    “Jangan sampai ketakutan-ketakutan yang belum terbukti justru menghambat program yang dampaknya langsung dirasakan rakyat,” imbuhnya.

    Tak lupa, Mahendra pun mengajak publik untuk merawat demokrasi dengan kritik yang berkualitas.

    Baginya, kritik yang idealis sah-sah saja, namun harus tetap berpijak pada data dan logika yang lurus.

    “Mari kita awasi dengan nalar yang jernih. Kritik itu vitamin demokrasi, tapi harus konstruktif dan solutif, bukan sekadar menyerang dengan logika yang bengkok,” pungkas Mahendra.

    Baca juga : Swasembada sebagai Syarat Mutlak Kedaulatan: Membaca Arah Kompas Prabowo Subianto

    Tags: #IndonesiaMaju#MahendraUtamw#PresidentPrabowoSubianto#ProgramKerakyatan
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    Langkah Tegas Presiden Prabowo di Sumatera: Mengembalikan Keseimbangan Lingkungan dan Keadilan

    Next Post

    Tunggu Hitungan Final Inspektorat, Tunda Bayar Pemprov Lampung Cair Februari

    Related Posts

    Metropolitan

    Tegaskan Nilai Persatuan dan Perdamaian Dunia

    03/06/2026
    Metropolitan

    Mengapa 80 Persen Rakyat Optimis? Rahasia Kolaborasi Mirza-Jihan Terbongkar

    09/02/2026
    Metropolitan

    “Gentengisasi” Prabowo: Proyek Estetika atau Pelumas Roda Ekonomi Desa di Lampung?

    05/02/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • 7 Jenis Pamor Keris yang Paling Terkenal: Mengenal Keindahan dan Filosofi di Balik Bilah Pusaka Nusantara

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Pakistan Tujuan Ekspor CPO Terbesar, Ketergantungan atau Kemitraan Strategis?

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Affan, Lurus Jalan, Terang Laku

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kerja Sama Nuklir dan Alutsista Indonesia-Pakistan, Era Baru Hubungan Bilateral

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Inflasi Lampung 2,46% di Juni 2026, Harga Emas dan Bensin Jadi Pemicu

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Memahami Arti Jumlah Luk pada Keris: Makna Filosofis di Balik Lekukan Bilah Pusaka Nusantara

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    Exit mobile version