Lappung – Ramai beredar soal kabar nyamuk wolbachia penyebar gen LGBT.
Klaim sensasional yang menyebutkan bahwa penyebaran nyamuk wolbachia merupakan misi Bill Gates untuk membentuk genetik LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) telah ditepis.
Baca juga : Umitra Gelar Webinar Ulas Peran Epidemiologi Hadapi Tantangan Kesehatan di Era Globalisasi
Info kontroversial itu ditepis oleh hasil penelusuran dan penelitian yang mendalam.
Meskipun beredar luas di media sosial, faktanya berbeda menurut penjelasan dari para ahli dan peneliti, termasuk Prof dr Adi Utarini dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Menurut Prof dr Adi Utarini, wolbachia bukanlah bakteri yang berbahaya bagi manusia.
Sebaliknya, bakteri ini efektif dalam mencegah penularan demam berdarah melalui gigitan nyamuk.
Dr Ningz juga menyatakan bahwa wolbachia adalah bakteri yang secara alami ada di dalam tubuh beberapa serangga dan bukan merupakan hasil rekayasa.
Penelitian yang dilakukan sejak 2011 oleh WMP di Yogyakarta menunjukkan bahwa efektivitas wolbachia telah diuji melalui berbagai tahap.
Mulai dari persiapan keamanan dan kelayakan hingga penelitian Randomised Controlled Trial pada tahun 2017-2020.
Baca juga : Arinal Rujuk Bocah Penderita Jantung Bocor ke Jakarta
Dengan implementasi teknologi wolbachia di Sleman dan Bantul, bekerja sama dengan pemerintah kabupaten, terbukti berhasil menurunkan kasus demam berdarah.
Sebelumnya, Prof dr Adi Utarini atau biasa disapa Prof Uut bersama timnya, berhasil menurunkan angka dengue sebesar 77,1 persen.
Juga angka hospitalization karena dengue berkurang 86,1 persen.
Dalam keterangannya, dilansir dari laman UGM, Jumat, 17 September 2023, Prof Uut menegaskan bahwa teknologi wolbachia tidak hanya efektif, tetapi juga lebih baik daripada vaksin dengue.
Meskipun demikian, Prof Uut menekankan bahwa keberadaan inovasi wolbachia tidak menghilangkan metode pencegahan dan pengendalian dengue yang sudah ada di Indonesia.
Nyamuk Wolbachia Penyebar Gen LGBT
Masyarakat tetap diminta untuk melakukan gerakan 3M Plus dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan.
Klaim kontroversial tentang Wolbachia sebagai misi genetik LGBT oleh Bill Gates dinilai menyesatkan oleh para ahli.
Sementara penelitian ini dianggap sebagai terobosan signifikan dalam pengendalian penyakit menular di masyarakat.
Inovasi Wolbachia Turunkan Penyebaran Dengue
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia terus berinovasi dalam upaya menurunkan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD).
Salah satunya dengan menerapkan teknologi wolbachia.
Baca juga : Sering Dianggap Sehat. 4 Camilan Ini Ternyata Berdampak Buruk
Uji coba penyebaran nyamuk ber-wolbachia telah sukses dilakukan di Yogyakarta dan Kabupaten Bantul pada tahun 2022.
Hasilnya, lokasi yang telah mendapat penyebaran wolbachia berhasil menekan kasus demam berdarah hingga 77 persen dan mengurangi proporsi dirawat di rumah sakit sebesar 86 persen.
Emma Rahmi Aryani, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, menyatakan bahwa jumlah kasus DBD pada Januari-Mei 2023 berada di bawah garis minimum selama tujuh tahun terakhir.
Diketahui, penerapan wolbachia bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di 9 negara lain.
Antara lain Brasil, Australia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Mexico, Kiribati, New Caledonia, dan Sri Lanka.
Hasilnya membuktikan efektivitasnya dalam pencegahan Dengue.
Di Indonesia, teknologi wolbachia diimplementasikan sebagai pilot project di 5 kota, yaitu Kota Semarang, Kota Jakarta Barat, Kota Bandung, Kota Kupang, dan Kota Bontang.
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1341 menetapkan pilot project Implementasi Wolbachia sebagai inovasi penanggulangan DBD.
Kesuksesan proyek ini membuka jalan bagi implementasi lebih luas dalam upaya global memerangi penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk.
Baca juga : Tertinggi Nasional. ABG Lampung Perokok





Lappung Media Network