Lappung
Lappung Media Network Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    Lappung
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Gaya Hidup » Hoaks! Nyamuk Wolbachia Penyebar Gen LGBT 

    Hoaks! Nyamuk Wolbachia Penyebar Gen LGBT 

    Irjen by Irjen
    17/11/2023
    in Gaya Hidup
    Hoaks! Nyamuk Wolbachia Penyebar Gen LGBT 

    Penelitian nyamuk wolbachia yang dilakukan sejak 2011 oleh WMP di Yogyakarta. Foto : Arsip UGM

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung – Ramai beredar soal kabar nyamuk wolbachia penyebar gen LGBT.

    Klaim sensasional yang menyebutkan bahwa penyebaran nyamuk wolbachia merupakan misi Bill Gates untuk membentuk genetik LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) telah ditepis.

    Baca juga : Umitra Gelar Webinar Ulas Peran Epidemiologi Hadapi Tantangan Kesehatan di Era Globalisasi

    Info kontroversial itu ditepis oleh hasil penelusuran dan penelitian yang mendalam. 

    Meskipun beredar luas di media sosial, faktanya berbeda menurut penjelasan dari para ahli dan peneliti, termasuk Prof dr Adi Utarini dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

    Menurut Prof dr Adi Utarini, wolbachia bukanlah bakteri yang berbahaya bagi manusia. 

    Sebaliknya, bakteri ini efektif dalam mencegah penularan demam berdarah melalui gigitan nyamuk. 

    Dr Ningz juga menyatakan bahwa wolbachia adalah bakteri yang secara alami ada di dalam tubuh beberapa serangga dan bukan merupakan hasil rekayasa.

    Penelitian yang dilakukan sejak 2011 oleh WMP di Yogyakarta menunjukkan bahwa efektivitas wolbachia telah diuji melalui berbagai tahap.

    Mulai dari persiapan keamanan dan kelayakan hingga penelitian Randomised Controlled Trial pada tahun 2017-2020. 

    Baca juga : Arinal Rujuk Bocah Penderita Jantung Bocor ke Jakarta 

    Dengan implementasi teknologi wolbachia di Sleman dan Bantul, bekerja sama dengan pemerintah kabupaten, terbukti berhasil menurunkan kasus demam berdarah.

    Sebelumnya, Prof dr Adi Utarini atau biasa disapa Prof Uut bersama timnya, berhasil menurunkan angka dengue sebesar 77,1 persen.

    Juga angka hospitalization karena dengue berkurang 86,1 persen. 

    Dalam keterangannya, dilansir dari laman UGM, Jumat, 17 September 2023, Prof Uut menegaskan bahwa teknologi wolbachia tidak hanya efektif, tetapi juga lebih baik daripada vaksin dengue.

    Meskipun demikian, Prof Uut menekankan bahwa keberadaan inovasi wolbachia tidak menghilangkan metode pencegahan dan pengendalian dengue yang sudah ada di Indonesia. 

    Nyamuk Wolbachia Penyebar Gen LGBT

    Masyarakat tetap diminta untuk melakukan gerakan 3M Plus dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan.

    Klaim kontroversial tentang Wolbachia sebagai misi genetik LGBT oleh Bill Gates dinilai menyesatkan oleh para ahli.

    Sementara penelitian ini dianggap sebagai terobosan signifikan dalam pengendalian penyakit menular di masyarakat.

    Inovasi Wolbachia Turunkan Penyebaran Dengue

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia terus berinovasi dalam upaya menurunkan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD).

    Salah satunya dengan menerapkan teknologi wolbachia. 

    Baca juga : Sering Dianggap Sehat. 4 Camilan Ini Ternyata Berdampak Buruk

    Uji coba penyebaran nyamuk ber-wolbachia telah sukses dilakukan di Yogyakarta dan Kabupaten Bantul pada tahun 2022.

    Hasilnya, lokasi yang telah mendapat penyebaran wolbachia berhasil menekan kasus demam berdarah hingga 77 persen dan mengurangi proporsi dirawat di rumah sakit sebesar 86 persen. 

    Emma Rahmi Aryani, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, menyatakan bahwa jumlah kasus DBD pada Januari-Mei 2023 berada di bawah garis minimum selama tujuh tahun terakhir.

    Diketahui, penerapan wolbachia bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di 9 negara lain.

    Antara lain Brasil, Australia, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Mexico, Kiribati, New Caledonia, dan Sri Lanka. 

    Hasilnya membuktikan efektivitasnya dalam pencegahan Dengue.

    Di Indonesia, teknologi wolbachia diimplementasikan sebagai pilot project di 5 kota, yaitu Kota Semarang, Kota Jakarta Barat, Kota Bandung, Kota Kupang, dan Kota Bontang. 

    Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1341 menetapkan pilot project Implementasi Wolbachia sebagai inovasi penanggulangan DBD.

    Kesuksesan proyek ini membuka jalan bagi implementasi lebih luas dalam upaya global memerangi penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk.

    Baca juga : Tertinggi Nasional. ABG Lampung Perokok

    Tags: DBDDemam Berdarah LampungDinkes LampungKemenkesLGBTNyamuk DengueNyamuk WolbachiaPenyakit di LampungUGMWolbachia
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    LISAN Lampung: Prabowo-Gibran 1 Putaran

    Next Post

    UIN Raden Intan-TSU Rusia MoU Beasiswa S3

    Related Posts

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama
    Gaya Hidup

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama

    11/03/2026
    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung
    Gaya Hidup

    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung

    22/02/2026
    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai
    Gaya Hidup

    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai

    20/02/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi

      Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Sering Sebut Galer? Selamat, Istilahmu Kini Resmi Masuk KBBI

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kakanwil BPN Sumsel Sambangi Kantah Banyuasin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • PDRB Bandarlampung Versus PDRB Palembang: Siapa Unggul?

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Selamat Tinggal Tiket Manual, ASDP Targetkan 100 Persen Digital Oktober Ini

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kantor Pertanahan Banyuasin Kobarkan Gerakan Gemapatas 2025

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved