Lappung – Badan Karantina Indonesia (Barantin) menyerukan perubahan strategi fundamental dalam mengawasi lalu lintas satwa liar dan komoditas hayati.
Pengawasan di titik-titik hilir seperti Pelabuhan Bakauheni dinilai tidak lagi memadai untuk membendung maraknya upaya penyelundupan dan ancaman bioterorisme.
Baca juga : Buntut Temuan Radioaktif, Karantina Pastikan Ekspor Cengkeh Langsung dari Lampung ke AS Tidak Ada
Barantin kini mendorong sinergi pengawasan yang dimulai jauh dari hulu, yakni di titik-titik pengumpulan awal di daerah asal.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung (Karantina Lampung), Donni Muksydayan, menegaskan strategi baru ini krusial untuk melindungi status Indonesia sebagai negara megabiodiversitas.
“Pengawasan harus dimulai dari titik-titik pengumpulan dan pergerakan awal di daerah asal.
“Di sinilah pentingnya sinergi sektoral antar Karantina di setiap provinsi serta koordinasi lintas instansi,” jelas Donni, dilansir pada Kamis, 23 Oktober 2025.
Pintu Gerbang Sumatera
Pelabuhan Bakauheni di Lampung selama ini menjadi benteng utama sekaligus titik krusial lalu lintas ilegal dari Sumatera ke Jawa, terutama untuk penyelundupan burung liar.
Meski penindakan terus dilakukan, Donni menilai upaya di ujung gerbang ini belum cukup efektif membendung arus penyelundupan.
“Berbagai pihak menilai, pengawasan harus diperkuat dari hulu, agar penyelundupan bisa dicegah sejak awal,” tegasnya.
Data Karantina Lampung menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan.
Sepanjang tahun 2025 (hingga Oktober), 13 upaya penyelundupan burung liar berhasil digagalkan dengan total 6.685 ekor diamankan.
Angka ini melengkapi catatan tahun 2024, di mana Karantina Lampung mencatat 21 kasus dengan temuan mengejutkan sebanyak 19.343 ekor burung.
Pada tahun 2023, jumlahnya mencapai 15.166 ekor.
Burung-burung ilegal tersebut umumnya berasal dari berbagai wilayah di Sumatera, seperti Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Sumatera Barat, hingga Sumatera Utara.
Baca juga : Tembus Rp266 Miliar, Kualitas Kopi Lampung untuk Pasar Jepang Dikawal Ketat Karantina
Tujuan utamanya adalah kota-kota besar di Jawa, termasuk Jakarta, Bekasi, Depok, Serang, dan Banten. Modus penyelundupan pun sangat mengkhawatirkan.
“Satwa tersebut dikemas dalam kondisi yang tidak layak, membahayakan kesehatan hewan, dan berpotensi membawa penyakit menular,” ungkap Donni.
“Ini bukan hanya soal penyelundupan satwa, tapi ancaman nyata terhadap ekosistem dan kesehatan masyarakat,” imbuhnya.
Dukungan terhadap strategi hulu-hilir ini juga datang dari pegiat lingkungan dan aparat pertahanan.
Marison Guciano, Executive Director FLIGHT Protecting Indonesia’s Birds, mengapresiasi kerja sama yang telah terjalin selama 7 tahun dengan karantina.
Menurutnya, kerja sama ini telah menyelamatkan lebih dari 200 ribu satwa liar dari penyelundupan Sumatera ke Jawa.
“Ini pekerjaan yang tidak mudah, kerja teman-teman Karantina luar biasa dalam mencegah upaya penyelundupan,” ujar Marison.
Sementara itu, Komandan Satuan Intelijen Medis BAIS TNI, Kolonel Czi Hari Santoso, menegaskan bahwa isu karantina tidak bisa dilepaskan dari pertahanan nasional.
“Keamanan karantina adalah bagian dari ketahanan nasional.
“Ancaman biologis bisa bersumber dari penyelundupan seperti ini, dan itu berdampak langsung pada ekonomi, kesehatan masyarakat, dan ekonomi negara,” tegas Hari Santoso.
Baca juga : Cegah Sebar Penyakit, Karantina Lampung Bakar 3,9 Ton Daging Ayam dan Jeroan Busuk





Lappung Media Network