Lappung – Unila pamerkan pesona budaya Lampung di KPDI.
Universitas Lampung (Unila) sukses memukau peserta Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-15 dengan persembahan istimewa kekayaan budaya Lampung.
Baca juga : Puji Raharjo: Menghargai Budaya, Barometer Seseorang Moderat dalam Beragama
Ajang tahunan ini, yang digelar selama 2 hari pada 6-7 Agustus 2024 di Hotel Grand Mercure, Bandarlampung, tidak hanya menjadi wadah diskusi tentang perkembangan teknologi perpustakaan.
Namun juga menjadi panggung bagi budaya lokal untuk bersinar.
Dengan mengusung tema Artificial Intelligence dalam Perpustakaan Digital, KPDI tahun ini menjadi momen yang tepat bagi Unila.
Tak lain untuk memperkenalkan beragam aspek menarik dari budaya Lampung kepada peserta yang datang dari berbagai penjuru tanah air.
Salah satu sesi yang paling dinantikan adalah pemaparan tentang sejarah, adat istiadat, motif kain, hingga pakaian tradisional Lampung oleh Anshori Djausal.
“Budaya Lampung memiliki kekayaan yang luar biasa dan patut kita lestarikan,” ujar Anshori, Rabu, 7 Agustus 2024.
“Melalui acara seperti ini, kita dapat memperkenalkan budaya Lampung kepada generasi muda dan masyarakat luas, sehingga nilai-nilai luhur budaya kita tidak tergerus oleh zaman,” kata dia lagi.
Baca juga : 3 Situs Lampung Cagar Budaya Nasional
Semarak budaya Lampung semakin terasa dengan adanya pertunjukan tari Sigeh Penguten pada upacara pembukaan.
Tarian yang penuh makna ini berhasil memukau para peserta dan memberikan gambaran yang jelas tentang keindahan dan keanggunan tarian tradisional Lampung.
Unila Pamerkan Pesona Budaya Lampung di KPDI
Rektor Unila, Prof Lusmeilia Afriani, mengungkapkan rasa bangganya atas penyelenggaraan KPDI ke-15 di Unila.
“Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi dan budaya dapat berjalan beriringan.
“Melalui perpustakaan digital, kita bisa melestarikan dan menyebarluaskan kekayaan budaya kepada generasi mendatang,” tegas Rektor.
Selain pertunjukan seni, para peserta juga dimanjakan dengan berbagai kerajinan tangan khas Lampung, seperti tapis yang memiliki nilai seni tinggi.
Baca juga : Bangga! 8 Budaya Lampung Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Takbenda
Tak ketinggalan, kuliner khas Lampung pun disajikan untuk memanjakan lidah para tamu.
Perpaduan Teknologi dan Budaya
KPDI ke-15 tidak hanya menjadi ajang pameran budaya, namun juga menjadi forum diskusi yang intensif mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pengelolaan perpustakaan digital.
Para peserta diajak untuk mengeksplorasi berbagai inovasi teknologi yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan layanan perpustakaan.
Sekaligus melestarikan dan mempromosikan warisan budaya.
“Kami berharap KPDI ini dapat menginspirasi kita semua untuk terus berinovasi dan mengembangkan perpustakaan digital.
“Yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan informasi, tetapi juga sebagai pusat pelestarian dan pengembangan budaya,” tutup Rektor Unila.
Dengan suksesnya penyelenggaraan KPDI ke-15, Unila telah membuktikan bahwa perpaduan antara teknologi dan budaya dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Dengan harapan acara ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk lebih peduli terhadap pelestarian budaya lokal.
Baca juga : Pesisir Barat Tuan Rumah LSAF VII, Jadi Promosi Pariwisata dan Budaya





Lappung Media Network