Lappung – Provinsi Lampung diam-diam memiliki 3 kabupaten yang menjadi sentra utama penghasil jeruk siam berkualitas, yang tidak hanya memenuhi pasar lokal tetapi juga menjadi penopang ekonomi kerakyatan.
Ketiga wilayah tersebut adalah Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Pesawaran, yang masing-masing memiliki keunggulan unik dalam pengembangan komoditas ini.
Baca juga : Radin Inten Bisa Jadi Hub Udara
Menurut pemerhati pembangunan, Mahendra Utama, jeruk siam Lampung lebih dari sekadar buah penyegar kaya vitamin C.
Ia telah menjelma menjadi simbol ekonomi yang tumbuh subur berkat kerja keras petani dan kondisi alam yang mendukung.
“Jeruk siam ini adalah bukti nyata bagaimana potensi agrikultur lokal bisa menjadi motor penggerak ekonomi.
“Dari lereng Gunung Rajabasa hingga dataran rendah Way Sekampung, kita melihat hamparan kebun yang menghasilkan jeruk dengan cita rasa manis segar khas tropis,” ujar Mahendra, pada Selasa, 7 Oktober 2025.
Mahendra memaparkan bahwa ketiga kabupaten ini memiliki peran dan karakteristiknya masing-masing dalam memajukan jeruk siam Lampung.
Lampung Selatan: Dikenal sebagai pelopor dengan lahan perkebunan terluas.
Petani di wilayah ini secara konsisten terus memperbaiki teknik budidaya, mulai dari pemilihan bibit hingga manajemen pascapanen, menjadikannya rujukan bagi daerah lain.
Lampung Timur: Di kabupaten ini, jeruk siam telah menjadi tulang punggung perekonomian bagi ribuan petani kecil.
Skala produksinya tidak hanya menopang ekonomi keluarga tetapi juga berhasil menembus pasar-pasar besar di Pulau Jawa, menjadikannya pemasok utama antarpulau.
Pesawaran: Wilayah ini menawarkan pendekatan yang inovatif dengan mengintegrasikan pertanian dan pariwisata.
Baca juga : Menyulam Harapan: Sinergi Kebijakan untuk Lampung Sehat dan Mandiri
“Pesawaran cerdas melihat peluang agrowisata. Mereka mengubah kebun jeruk menjadi destinasi menarik yang mengundang wisatawan, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat desa,” jelas Mahendra.
Potensi Jadi Merek Nasional
Keberhasilan 3 kabupaten ini dalam menjaga eksistensi jeruk siam tidak lepas dari sinergi yang kuat antara berbagai pihak.
Menurut Mahendra, kolaborasi menjadi kunci utama keberlanjutan produksi dan kualitas.
“Yang membuat ekosistem ini bertahan dan terus tumbuh adalah adanya kerja sama solid antara pemerintah daerah, koperasi petani, hingga pengusaha lokal.
“Mereka bahu-membahu menjaga kualitas dan memastikan rantai pasok dari panen hingga ke konsumen berjalan lancar,” tegasnya.
Dengan potensi yang sangat besar, Mahendra optimis bahwa jeruk siam Lampung memiliki peluang untuk naik kelas.
Ia mendorong adanya pengelolaan yang lebih serius dan terintegrasi agar komoditas ini bisa memiliki identitas geografis yang kuat di tingkat nasional.
“Jika ini dikelola dengan serius, bukan tidak mungkin Jeruk Siam Lampung akan menjadi brand geografis baru yang sejajar dengan jeruk Pontianak atau jeruk Medan yang lebih dulu dikenal luas oleh masyarakat Indonesia,” tutupnya.
Baca juga : Tapioka Lesu, Petani Singkong Lampung Terjepit: Solusi Terpadu Dibutuhkan Segera
