Lappung – Mahasiswa FEB Unila gugat Dekanat minta usut kekerasan dan intimidasi.
Ratusan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila) yang tergabung dalam Aliansi FEB Menggugat menggelar aksi demonstrasi di pelataran Gedung Dekanat FEB.
Baca juga : Tergiur Uang ShopeePay, Mahasiswa Bandarlampung Jadi Joki Curanmor Kos-kosan
Mereka menuntut transparansi dan penegakan etika kampus atas dugaan kekerasan dan intimidasi yang terjadi di lingkungan organisasi kemahasiswaan (Ormawa).
Dengan membawa spanduk, poster, dan pengeras suara, mahasiswa menyuarakan kekecewaan atas sikap pimpinan fakultas yang dinilai abai dan membungkam korban kekerasan.
“Sudah ada bukti rekam medis, pernyataan korban, dan chat digital yang menunjukkan adanya kekerasan.
“Tapi Dekanat diam. Ini bentuk pembiaran,” tegas Jenderal Lapangan Aksi, M Zidan Azzakri, dikutip pada Rabu, 28 Mei 2025.
Menurut Zidan, kasus kekerasan itu tidak berdiri sendiri.
Baca juga : Ombudsman Sentil Unila Soal Keamanan Parkir Mahasiswa
Ia menyebut, iklim organisasi di FEB sudah lama dipenuhi praktik intimidatif, minimnya transparansi, serta ketidakadilan struktural yang dibiarkan berlarut-larut oleh pihak kampus.
Mahasiswa juga menyoroti buruknya fasilitas akademik, terutama di Gedung F, yang disebut tidak layak untuk kegiatan belajar.
“Gedung F itu seperti ruangan sauna. Tidak ada AC, proyektor rusak, komputer tidak bisa dipakai. Tapi anggaran entah ke mana,” ujar salah satu peserta aksi.
Dalam pernyataan sikapnya, Aliansi FEB Menggugat menyampaikan empat tuntutan utama:
- Menghapus Ormawa yang terbukti melakukan kekerasan dan pelanggaran etik;
- Mengadili pelaku sesuai hukum dan etika kampus;
- Melakukan klarifikasi terbuka kepada publik;
- Menghentikan intimidasi dan pembungkaman terhadap korban.
Mahasiswa FEB Unila Gugat Dekanat Usut Kekerasan dan Intimidasi
Sebelumnya, aksi sempat memanas saat perwakilan mahasiswa diterima pihak Dekanat
Baca juga : Magang Berujung Maut, Mahasiswa Lampung Tewas Kecelakaan di Ngawi
Namun, pertemuan tersebut berakhir buntu setelah Dekan dan para wakil dekan menolak menandatangani Pakta Integritas yang diajukan massa.
“Penolakan itu menunjukkan ketidakseriusan mereka. Kami ingin komitmen hitam di atas putih, tapi yang kami dapat cuma janji kosong,” ujar Zidan usai dialog.
Meski aksi berakhir damai, para mahasiswa menegaskan akan menggelar aksi lanjutan dalam waktu dekat.
Mereka juga mengajak seluruh elemen mahasiswa Unila untuk bersatu menyuarakan keadilan dan reformasi di lingkungan kampus.
“Kami tidak akan berhenti sampai Dekanat benar-benar bertanggung jawab. Ini bukan hanya soal kekerasan, ini soal masa depan kampus yang harus dibenahi bersama,” tutup Zidan.
Baca juga : Dibungkam! Konsolidasi Mahasiswa Unila Dibubarkan, LBH: Ini Kesewenang-wenangan





Lappung Media Network