Lappung – Kondisi jalur lintas barat yang menghubungkan Liwa, Lampung Barat, dengan Krui, Pesisir Barat, kian mengkhawatirkan.
Sebanyak 12 titik longsor kini mengancam keselamatan pengendara di ruas jalan nasional tersebut, memaksa Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Lampung untuk bekerja ekstra keras di tengah cuaca ekstrem.
Baca juga : Hati-hati! 39 Titik Jalan Nasional di Lampung Rawan Longsor Saat Mudik
Untuk penanganan darurat tahap awal di lima titik longsor, BPJN Lampung menyebutkan kebutuhan anggaran mencapai Rp9,6 miliar.
Kepala BPJN Lampung, Susan Novelia, menjelaskan bahwa timnya saat ini tengah berpacu dengan waktu untuk memulihkan kondisi jalan yang menjadi urat nadi perekonomian di pesisir barat Lampung.
“Total ada 12 titik longsor di sepanjang ruas jalan tersebut. 5 titik sedang dalam penanganan intensif, sementara 7 titik lainnya merupakan longsor baru yang terjadi dalam dua pekan terakhir,” ujar Susan Novelia, dikutip pada Selasa, 15 Juli 2025.
Menurut Susan, penanganan darurat difokuskan pada 5 titik awal yang kondisinya paling parah.
Baca juga : Bupati Pesawaran Gencarkan Penanganan Banjir dan Longsor, Normalisasi Sungai Jadi Prioritas
Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah longsor di Km 253+700 yang menggerus badan jalan hingga sepanjang 45 meter.
“Jumlah kebutuhan untuk pengerjaan darurat di lima titik ini mencapai Rp9,6 miliar. Titik di Km 253+700 perlu perhatian serius karena longsornya cukup panjang dan parah,” rincinya.
Untuk mengatasi longsor, BPJN menerapkan metode teknis yang disesuaikan dengan tingkat kerusakan.
Lokasi longsor yang parah akan dibangun dinding penahan tanah (retaining wall) untuk memperkuat struktur lereng.
Sementara itu, untuk titik longsor yang lebih ringan, penanganan dilakukan menggunakan bronjong.
Tantangan BPJN tidak berhenti di 5 titik tersebut. Munculnya 7 titik longsor baru membuat situasi semakin kompleks.
Baca juga : Korban Jiwa Berjatuhan, Banjir dan Longsor Hantam Bandarlampung
Pihaknya kini tengah menyusun usulan dana tambahan untuk menangani lokasi-lokasi baru tersebut.
“Untuk 7 titik yang belum tertangani secara permanen, kami telah memasang water barrier serta lampu penerangan sebagai tanda peringatan bagi pengendara yang melintas, terutama pada malam hari,” tegas Susan.
Ia menambahkan, kondisi geografis jalur Liwa-Krui yang berbukit dan memiliki banyak lereng curam, ditambah intensitas hujan yang masih tinggi, menjadi penyebab utama rentannya bencana longsor di kawasan ini.
“Kami sudah meminta semua tim di lapangan untuk bersiaga penuh.
“Proses perbaikan mungkin akan memakan waktu lebih lama karena faktor cuaca dan karena jalur ini merupakan jalur utama yang tidak bisa ditutup total,” katanya.
BPJN mengimbau agar para pengendara, terutama kendaraan dengan muatan berat, untuk meningkatkan kewaspadaan saat melintasi jalur Liwa-Krui hingga proses perbaikan selesai sepenuhnya.
Baca juga : BMKG: Hujan Lebat, Angin Kencang, dan Longsor Ancam Sejumlah Wilayah di Lampung





Lappung Media Network