Lappung – Kopi Arabika Java Ijen-Raung kembali mencuri perhatian di awal 2025.
Dari lereng sejuk dataran tinggi Ijen–Raung yang diselimuti kabut tipis, kopi bukan sekadar komoditas, melainkan identitas dan sumber kehidupan ribuan keluarga petani.
Baca juga : Harga Tembus Rp60 Ribu, Petani Dairi Sumut Ramai-ramai Tanam Kopi Lampung
Penikmat Kopi Ijen sekaligus pemerhati agribisnis, Mahendra Utama, menegaskan bahwa tahun 2025 menjadi momentum penting bagi kopi Java Ijen-Raung untuk memperkuat posisinya di pasar global.
“Nama besar tidak akan memanen dirinya sendiri. Agar tetap eksis, kopi Ijen-Raung harus menjaga mutu, adaptif terhadap perubahan iklim, dan mampu menangkap peluang pasar internasional,” ujar Mahendra, Sabtu, 23 Agustus 2025.
Jejak Kopi Ijen-Raung
Kopi Ijen memiliki sejarah panjang sejak akhir abad ke-19 ketika pemerintah kolonial Belanda membuka perkebunan di dataran tinggi Ijen seperti Blawan, Kalisat-Jampit, Kalimas, dan Pancur Angkrek.
Reputasi kopi Jawa mulai harum di Eropa berkat sistem budidaya dan pascapanen yang rapi.
Pasca nasionalisasi, pengelolaan kebun dilanjutkan oleh PTPN XII dan menjadi sekolah lapang bagi petani lokal.
Baca juga : Senja Kopi di Pelukan Malang
“Konsistensi rasa dengan keasaman bersih, body menengah, dan aftertaste manis inilah yang membuat Java Coffee bertahan lintas generasi,” jelas Mahendra.
Legitimasi Indikasi Geografis
Sejak 2013, “Kopi Arabika Java Ijen-Raung” resmi terdaftar sebagai produk Indikasi Geografis (IG).
Status ini tidak hanya menjaga standar mutu dari ketinggian tanam, varietas, hingga proses pascapanen, tetapi juga meningkatkan nilai jual dan akses ke pasar internasional.
“IG itu ibarat paspor. Tanpa itu, kita hanya jadi penonton di pasar kopi spesialti dunia,” tegas Mahendra.
Bondowoso, Poros Produksi Kopi Arabika
Bondowoso dikenal sebagai “Republik Kopi” karena menjadi penghasil utama arabika Ijen-Raung.
Data BPS menunjukkan kabupaten ini konsisten menyumbang produksi kopi arabika terbesar di Jawa Timur.
Dengan adanya IG, banyak kelompok tani kini memproses kopi secara mandiri dengan metode washed, honey, maupun natural.
Baca juga : Wow! Ekspor Kopi, Teh, dan Rempah Lampung Meroket 552,21 Persen di Awal 2025
Hasilnya, nilai tambah tidak lagi keluar desa, melainkan menghidupi komunitas setempat.
Iklim, Mutu, dan Pemasaran
Menurut BMKG, iklim 2025 diprediksi lebih ramah dibanding tahun 2023 yang dilanda El Nino, dengan dominasi La Nina lemah hingga netral.
Namun, Mahendra menegaskan bahwa manajemen air, naungan, dan pengendalian hama tetap menjadi pekerjaan rumah.
Ia menyoroti 3 tantangan utama kopi Ijen-Raung:
- Disiplin mutu – Standar IG menuntut keseragaman praktik budidaya dan pascapanen, mulai dari panen merah hingga pengeringan higienis.
- Adaptasi iklim – Konservasi air, pemanfaatan embung mikro, serta rehabilitasi naungan penting untuk menjaga produktivitas.
- Pemasaran dan skala ekonomi – Konsolidasi koperasi, akses pembiayaan pascapanen, dan branding IG di pasar global perlu terus diperkuat.
Strategi Penguatan Kopi Ijen-Raung
Mahendra menyarankan sejumlah langkah praktis yang bisa dilakukan pada 2025, antara lain:
- Menyusun kalender panen berbasis iklim.
- Menjadikan standar IG sebagai SOP harian di kebun.
- Diversifikasi proses pascapanen dan traceability produk.
- Kemitraan mutu antara PTPN XII dengan petani melalui fasilitas bersama.
- Mengembangkan wisata kopi Ijen sebagai pendukung ekonomi.
“Kalau 3 hal itu dirawat, mutu, iklim, dan pemasaran, Java Ijen-Raung akan terus menjadi kebanggaan Nusantara dan membawa harum kopi Indonesia di kancah dunia,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Studi: Efek Kopi untuk Jantung Ternyata Tergantung Jam Minum





Lappung Media Network