Lappung – Kabupaten Lampung Selatan kian memantapkan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan utama di Sumatera.
3 komoditas andalan, jagung, kopi robusta, dan kelapa dalam, terbukti menjadi pilar kokoh yang tidak hanya menggerakkan roda ekonomi lokal, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional.
Baca juga : Revitalisasi Bandara Notohadinegoro: Katalisator Pertumbuhan Ekonomi Jember dan Wilayah Tapal Kuda
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menjelaskan bahwa kekuatan trio komoditas ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan fondasi nyata bagi kesejahteraan petani dan stabilitas daerah.
“Lampung Selatan memiliki potensi luar biasa. Jagung, kopi, dan kelapa adalah identitas sekaligus mesin penggerak ekonomi kerakyatan.
“Jika dikelola dengan kebijakan yang tepat dari hulu hingga hilir, dampaknya akan sangat besar,” ujar Mahendra Utama, Jumat, 29 Agustus 2025.
Jagung, Tulang Punggung Swasembada Pangan
Sebagai produsen jagung terbesar kedua di Provinsi Lampung, Lampung Selatan mencatatkan angka produksi yang impresif, yakni mencapai 783.027 ton pada tahun 2025.
Dengan luas tanam seluas 127.718 hektare, produktivitas rata-rata mencapai 6,13 ton per hektare.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Lampung 2025: Momentum yang Tidak Boleh Dilewatkan
Kecamatan Penengahan menjadi penyumbang terbesar dengan total produksi 89.797 ton.
Menurut Mahendra, keberhasilan ini tidak lepas dari intervensi pemerintah.
“Langkah Pemkab Lampung Selatan bersama pemerintah pusat, seperti kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp5.500 per kilogram oleh Bulog, program tanam serentak, dan bantuan benih, adalah bukti kehadiran negara untuk melindungi petani,” jelasnya.
Meski demikian, ia menyoroti tantangan klasik yang masih membayangi petani.
“Fluktuasi harga saat panen raya dan keterbatasan infrastruktur penyimpanan seperti gudang masih menjadi pekerjaan rumah.
“Jangan sampai petani selalu berada di posisi yang lemah,” tegas Mahendra.
Kopi Robusta, Aroma Ekspor yang Menjanjikan
Di sektor perkebunan, kopi robusta Lampung Selatan telah lama dikenal di pasar internasional.
Sebagai bagian dari wilayah pengembangan kopi prioritas nasional, inovasi terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.
Baca juga : Eksportir sebagai Pilar Ekonomi Lampung dan Peran Strategis Kepemimpinan Muda
Mahendra mencontohkan adanya kolaborasi strategis dengan Universitas Lampung (Unila) untuk uji coba bibit unggul serta penerapan sistem tumpang sari, di mana tanaman kopi dipadukan dengan lada untuk mengoptimalkan produktivitas lahan.
“Koperasi petani juga memegang peranan vital dalam mengorganisir pengolahan pasca panen hingga pemasaran.
“Namun, ketergantungan pada harga pasar global menjadi risiko.
“Hilirisasi harus lebih agresif. Nilai tambah produk olahan kopi harus bisa dinikmati langsung oleh petani, bukan hanya eksportir besar,” paparnya.
Kelapa Dalam, Raksasa yang Butuh Sentuhan Hilirisasi
Dengan produksi mencapai 20.340 ton, Lampung Selatan juga berstatus sebagai produsen kelapa dalam terbesar di Lampung.
Komoditas ini menjadi penyangga ekonomi perkebunan di samping kelapa sawit dan karet.
Pemerintah daerah telah memperkenalkan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk membantu petani menyimpan hasil panen dan menghindari permainan harga oleh tengkulak.
Akses pembiayaan berbasis komoditas juga dibuka untuk menjaga stabilitas harga.
“Tantangan terbesarnya ada di hilirisasi. Selama ini, sebagian besar kelapa dijual dalam bentuk mentah.
“Padahal, jika diolah menjadi produk turunan seperti minyak kelapa murni (VCO), sabun herbal, atau briket tempurung, ini bisa membuka lapangan kerja baru dan menjadi sumber devisa yang signifikan,” kata Mahendra.
Apresiasi untuk Peran Aktif Pemerintah Daerah
Mahendra Utama turut mengapresiasi kepemimpinan Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, yang dinilai proaktif dalam mendukung sektor pertanian.
Program seperti penanaman jagung serentak, penguatan koperasi tani seperti Koperasi Merah Putih, hingga pembangunan infrastruktur penunjang (jalan usaha tani, irigasi, dan revitalisasi pasar) dianggap sebagai langkah konkret yang tepat sasaran.
“Dukungan Pemkab ini menjadi benteng penting untuk menjaga stabilitas harga di tengah gejolak inflasi pangan global.
“Ketika pemerintah daerah hadir dan fokus, petani akan lebih berdaya,” jelasnya.
Selain itu, di tengah tantangan krisis pangan global, sinergi antara kebijakan pemerintah pusat, provinsi, dan daerah menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian.
“Lampung Selatan telah membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, potensi lokal mampu menjadi penopang utama ekonomi nasional,” tutup Mahendra Utama.
Baca juga : APBD 2026 Lampung Fokus 3 Sektor: Ekonomi, Jalan, dan Pendidikan Gratis





Lappung Media Network