Lappung – Denyut kehidupan urban di Kota Bandarlampung semakin kencang.
Salah satu penandanya adalah menjamurnya kafe-kafe kopi modern yang kini menjadi kantor kedua bagi para eksekutif muda.
Baca juga : Kopi, Teh, dan Rempah-Rempah Jadi Primadona, Ekspor Pertanian Lampung Melesat 239 Persen
Namun, di tengah gemerlapnya budaya ngopi yang kian mengakar, sebuah pertanyaan penting mengemuka, sudahkah kopi asli Lampung menjadi primadona di rumahnya sendiri?
Fenomena ini menjadi sorotan Mahendra Utama, seorang pelaku agroindustri.
Menurutnya, pertumbuhan pesat kafe seperti El’s Coffee House, Liep’s Cafe, Dijou Coffeebar, Marley’s Cafe, De Arte Cafe,, Waroeng Diggers, dan Skaye Cafe & Resto, adalah cermin kelas menengah kota yang makin percaya diri.
Namun, ia menyayangkan jika gengsi dan gaya hidup ini tidak diiringi dengan kebanggaan terhadap produk lokal.
“Ini adalah momentum emas. Pertanyaannya, apakah kafe-kafe modern ini konsisten menghadirkan kopi Robusta dan Arabika kebanggaan Lampung,” ujar Mahendra, Kamis, 4 September 2205.
Magnet Kafe Modern: Lebih dari Sekadar Tempat Ngopi
Tidak bisa dipungkiri, kafe-kafe hits di Bandarlampung sukses menciptakan ekosistemnya sendiri.
Baca juga : Jejak Manis Tanggamus, Saat Cokelat Berpadu dengan Kopi dan Jahe Lampung
Keberhasilan mereka, menurut Mahendra, ditopang oleh 3 pilar utama:
- Desain Estetik: Konsep interior yang Instagrammable, mulai dari minimalis, tropis, hingga rooftop city view, menjadikan kafe sebagai ruang ketiga yang nyaman setelah rumah dan kantor.
- Menu Inovatif: Tak lagi hanya soal espresso atau cappuccino, kafe kini berlomba menyajikan manual brew, cold brew, hingga racikan es kopi susu gula aren yang akrab di lidah generasi muda.
- Paham Target Pasar: Dengan menyediakan Wi-Fi stabil, ruang meeting informal, dan hiburan ringan, kafe telah bertransformasi menjadi ruang kerja sekaligus arena sosialisasi bagi para profesional muda usia 25–40 tahun, mulai dari manajer, pengusaha start-up, hingga pejabat muda.
“Mereka datang bukan sekadar untuk minum kopi.
“Mereka mencari atmosfer produktif, suasana yang representatif, dan tentu saja, ruang untuk membangun citra diri,” jelas Mahendra.
Ironi di Tanah Surga Kopi: Produk Lokal Masih Jadi Anak Tiri
Lampung adalah raksasa produsen kopi Indonesia.
Data menunjukkan produksi kopi Lampung pada 2024 diproyeksi mencapai 141.918 ton, sebuah lonjakan signifikan dari 105.807 ton pada tahun sebelumnya.
Ironisnya, status sebagai lumbung kopi nasional belum sepenuhnya tercermin di meja-meja kafe modernnya.
Mahendra menyoroti masih banyak kafe yang lebih bangga menyajikan biji kopi dari luar daerah demi mengejar citra internasional. Padahal, kualitas kopi lokal tidak kalah saing.
“Dulu orang hanya tahu Lampung itu Robusta. Sekarang kita harus bangga, Lampung juga punya Arabika berkualitas dari daerah seperti Gunung Betung.
“Robusta kita dari Lampung Barat bahkan punya karakter rasa yang sangat kuat dan khas. Ini bisa menjadi branding yang luar biasa,” tegasnya.
Menurutnya, inilah saatnya untuk mengubah paradigma.
Kafe-kafe di Bandarlampung harus menjadi etalase utama yang memamerkan kekayaan rasa kopi lokal.
Baca juga : Harga Tembus Rp60 Ribu, Petani Dairi Sumut Ramai-ramai Tanam Kopi Lampung
“Kalau mau buat kafe di Lampung, ya utamakan kopi Lampung. Jadikan produk kita tuan rumah,” seru Mahendra.
Sinergi Kunci: Menghubungkan Kebun dengan Gaya Hidup Urban
Fenomena menjamurnya kafe di Bandarlampung adalah titik temu strategis antara gaya hidup urban dengan kekuatan agroindustri daerah.
Menurut Mahendra, itu adalah peluang emas untuk membangun sinergi yang saling menguntungkan.
“Bayangkan jika terjalin sinergi yang kuat antara petani, roaster (penyangrai kopi), dan pemilik kafe.
“Kopi Lampung tidak akan lagi hanya dikenal sebagai komoditas ekspor mentah, tetapi sebagai ikon gaya hidup para eksekutif muda di kotanya sendiri,” tuturnya.
Kafe, lanjutnya, adalah panggung paling efektif untuk mengedukasi konsumen tentang kualitas dan keunikan kopi Lampung.
Dengan menyajikan single origin lokal, kafe tidak hanya menjual minuman, tetapi juga cerita dan identitas daerah.
Pada akhirnya, perubahan wajah Bandarlampung menjadi pusat kreativitas dan gaya hidup harus diiringi dengan penguatan identitas lokal.
“Sudah saatnya kafe-kafe modern di kota ini memberi ruang terhormat bagi kopi Lampung, karena kopi bukan sekadar minuman, melainkan identitas, keberlanjutan ekonomi, dan masa depan agroindustri kebanggaan daerah,” tutup Mahendra Utama.
Baca juga : Robusta Lampung Rebut 41 Persen Pasar Kopi Mesir, Kalahkan Vietnam dan Brazil





Lappung Media Network