Lappung – Di tengah dominasi kopi dan singkong, Provinsi Lampung diam-diam menyimpan potensi ekonomi besar dari komoditas kakao yang belum tergarap maksimal.
Pemerhati pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti pentingnya langkah strategis untuk mendorong hilirisasi agar kakao tidak hanya berhenti sebagai bahan mentah, tetapi menjadi produk cokelat unggulan khas daerah.
Baca juga : Good Agricultural Practices, Kunci Sukses Kakao Pesawaran
Menurut Mahendra, Lampung memiliki sejarah panjang sebagai salah satu sentra kakao nasional sejak tanaman ini diperkenalkan pada era 1980-an.
Wilayah seperti Pesawaran, yang bahkan dijuluki Bumi Kakao, bersama Lampung Selatan, Tanggamus, dan Lampung Timur, menjadi bukti bahwa kakao telah lama menjadi tumpuan hidup ribuan petani.
“Data Dinas Perkebunan pada 2020 mencatat luas kebun kakao kita mencapai 79 ribu hektare dengan produksi hampir 59 ribu ton.
“Ini angka yang sangat signifikan dan hampir seluruhnya dikelola oleh petani rakyat,” ujar Mahendra, Kamis, 11 September 2025.
Namun, ia menegaskan bahwa di balik besarnya angka produksi tersebut, petani masih menghadapi tantangan klasik.
Masalah seperti fluktuasi harga, serangan hama, dan pasar yang lebih menyerap biji mentah menjadi penghambat utama kesejahteraan petani.
“Mayoritas hasil panen kita dikirim ke Jawa atau diekspor langsung ke Eropa dan Amerika dalam bentuk biji kering.
“Akibatnya, nilai tambah dari pengolahan justru dinikmati oleh pihak luar, bukan oleh petani dan daerah kita sendiri,” jelasnya.
Hilirisasi sebagai Kunci Nilai Tambah
Mahendra menilai, pemerintah telah mengambil langkah awal melalui program peremajaan tanaman dan subsidi pupuk.
Namun, upaya tersebut masih terfokus di sektor hulu (perkebunan).
Padahal, kunci untuk meningkatkan nilai ekonomi kakao terletak pada hilirisasi atau industri pengolahan.
“Hilirisasi adalah jawaban agar petani mendapatkan harga yang lebih adil dan Lampung bisa memiliki identitas produk cokelat lokal yang kuat, setara dengan kopi yang sudah lebih dulu dikenal,” tegasnya.
Pandangan ini diperkuat oleh pernyataan Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Lampung, Arif Rahman, dalam beberapa kesempatan, yang menyebut perjuangan petani belum selesai, terutama dalam menjaga kualitas dan memastikan biji kakao memiliki nilai tambah.
Peluang di Tengah Tren Gaya Hidup
Salah satu peluang terbesar yang belum dimanfaatkan, menurut Mahendra, adalah tren kafe yang menjamur di Bandarlampung dan kota-kota lainnya.
Baca juga : Jejak Manis Tanggamus, Saat Cokelat Berpadu dengan Kopi dan Jahe Lampung
Ia melihat ada celah untuk menghubungkan produk petani desa dengan gaya hidup anak muda di perkotaan.
“Konsumsi cokelat di Lampung memang masih rendah dibandingkan kopi.
“Namun, jika kita membangun literasi tentang manfaat kesehatan dark chocolate dan mengemasnya secara modern, cokelat bisa menjadi menu andalan di kafe-kafe,” paparnya.
Ia membayangkan signature drink berbasis kakao lokal Lampung tersaji di setiap kedai kopi, menciptakan pasar domestik yang kuat sekaligus memperkenalkan cita rasa khas daerah.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Mahendra mengusulkan 3 langkah strategis:
Memperluas program peremajaan dan pengendalian hama untuk meningkatkan produktivitas kebun rakyat.
Mendorong UMKM dan investor lokal untuk berani memasuki industri pengolahan cokelat skala kecil hingga menengah.
Membangun literasi publik mengenai manfaat cokelat sehat dan menautkannya dengan gaya hidup urban melalui kolaborasi dengan pengusaha kafe.
“Lampung sudah puluhan tahun menanam kakao. Sekarang saatnya kita menanam mimpi yang lebih besar, yaitu menjadikan cokelat Lampung bukan hanya cerita dari kebun, tetapi juga identitas rasa yang membanggakan dari tanah Sai Bumi Ruwa Jurai,” tutupnya.
Baca juga : Perkuat Ekonomi Regional, Lampung Ajak Jawa Timur Untung dan Berkembang Bersama





Lappung Media Network