Lappung – 3 kabupaten yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan utama di Provinsi Lampung, yakni Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Lampung Timur, ternyata memiliki disparitas ekonomi yang cukup mencolok jika dilihat dari indikator kesejahteraan penduduk.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 (angka sementara ADHB), terdapat persaingan ketat namun timpang dalam hal Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita.
Baca juga : PDRB Bandarlampung Versus PDRB Palembang: Siapa Unggul?
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyoroti data tersebut sebagai cerminan fondasi ekonomi yang berbeda di tiap daerah.
Menurutnya, Lampung Tengah (Lamteng) menunjukkan dominasi mutlak dibandingkan 2 pesaingnya.
“Jika kita bicara kesejahteraan lewat indikator PDRB per kapita, Lampung Tengah melaju jauh meninggalkan Lampung Selatan dan Lampung Timur.
“Angkanya sangat solid,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Senin, 1 Desember 2025.
Mahendra memaparkan, berdasarkan data 2024, Lampung Tengah mencatat PDRB per kapita tertinggi di antara ketiganya, yakni mencapai Rp63,66 juta per kapita per tahun.
“Angka itu menempatkan Lampung Tengah di peringkat ke-3 se-Provinsi Lampung.
“Jadi prestasi yang membanggakan dan menandakan perputaran ekonomi di sana sangat masif,” jelasnya.
Kesenjangan Rp14 Juta
Di posisi kedua dalam klaster lumbung pangan ini, terdapat Lampung Selatan (Lamsel) dengan capaian Rp53,89 juta per kapita per tahun (peringkat ke-5 provinsi).
Sementara itu, Lampung Timur (Lamtim) harus puas berada di posisi terbawah dengan Rp49,27 juta per kapita per tahun (peringkat ke-7 provinsi).
Mahendra menekankan adanya gap atau kesenjangan yang signifikan antara pemuncak klasemen dan posisi terbawah.
“Ada selisih lebih dari Rp 14 juta per kapita antara Lampung Tengah dan Lampung Timur. Ini angka yang besar.
“Menunjukkan ada ketimpangan produktivitas ekonomi, padahal kedua daerah ini sama-sama penghasil komoditas pertanian penting,” tegas Mahendra.
Baca juga : Kenapa PDRB Bandarlampung Masih Kalah Jauh dari Palembang?
Pertanian
Lebih lanjut, Mahendra menganalisis faktor pembeda yang membuat Lampung Tengah begitu dominan.
Menurutnya, Lamteng tidak lagi hanya bertumpu pada sektor pertanian mentah.
“Kuncinya ada pada diversifikasi. Lampung Tengah sukses berperan sebagai pusat logistik, memiliki industri pengolahan yang hidup, dan menjadi sentra perdagangan di jantung provinsi.
“Ditambah infrastruktur yang lebih baik, produktivitas warganya otomatis terdongkrak,” urai Mahendra.
Sementara itu, Mahendra menilai Lampung Selatan sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengejar ketertinggalan, mengingat posisinya sebagai gerbang Sumatera-Jawa.
Keberadaan Pelabuhan Bakauheni dan akses Tol Trans Sumatera adalah modal utama sektor jasa dan konektivitas Lamsel.
“Untuk Lampung Timur, ini adalah pekerjaan rumah besar. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan nilai tambah.
“Tidak bisa lagi hanya mengandalkan pertanian konvensional. Harus ada hilirisasi atau industri pengolahan hasil tani jika ingin PDRB-nya naik kelas,” saran Mahendra.
Menutup analisisnya, Mahendra menyebut bahwa meskipun data 2025 belum dirilis, potret data 2024 ini sudah cukup menjadi peringatan bagi pemerintah daerah setempat.
“Lampung Tengah sudah berlari kencang. 2 kabupaten lainnya harus segera berbenah jika ingin menyamai atau melampaui pencapaian tersebut,” pungkasnya.
Baca juga : 5 Negara Importir Lada Lampung: Menggali Potensi Sang Lampung Black Pepper





Lappung Media Network