Lappung – Rangkaian kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Pakistan dan Rusia pada 8-10 Desember 2025 dinilai sebagai momentum krusial dalam sejarah diplomasi modern Indonesia.
Langkah ini menegaskan komitmen Jakarta untuk tidak hanya bermain di satu poros, melainkan memperkuat keseimbangan geopolitik.
Baca juga : Jurus Diplomasi Ekonomi Prabowo: Kemitraan Kapal Rp87 Triliun, Solusi Win-Win RI-Inggris
Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, menyebut lawatan maraton itu bukan sekadar kunjungan protokoler atau seremonial biasa.
Menurutnya, pertemuan dengan para pemimpin di Asia Selatan dan Eurasia tersebut merupakan investasi jangka panjang bagi kepentingan nasional.
“Rangkaian kunjungan membuktikan satu hal, bahwa diplomasi Indonesia tidak melulu menghadap ke Barat.
“Kita melihat keseimbangan nyata dengan memperkuat hubungan mitra di Asia Selatan dan Eurasia. Inilah wujud konkret politik bebas aktif,” ujar Mahendra Utama dalam keterangannya, Jumat, 12 Desember 2025.
Ikatan 75 Tahun
Dalam lawatannya ke Pakistan (8-9 Desember), Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyepakati 7 Nota Kesepahaman (MoU) yang mencakup sektor pendidikan, kesehatan, hingga perdagangan.
Mahendra menyoroti adanya program pengakuan bersama gelar pendidikan tinggi dan hibah The Indonesian Aid Scholarships sebagai poin strategis.
“Ini membuka peluang besar untuk peningkatan kualitas SDM kedua negara. Apalagi momennya tepat saat perayaan 75 tahun hubungan diplomatik,” kata Mahendra.
Selain isu bilateral, pertemuan tersebut juga menegaskan solidaritas kedua negara terhadap Palestina.
Baca juga : 1 Tahun Prabowo-Gibran: Faisol Riza, Aktor Kunci Di Balik Akselerasi Industri Nasional
Mahendra mengapresiasi sikap tegas Prabowo dan Shehbaz Sharif yang kompak menyuarakan solusi 2 negara.
“Indonesia menunjukkan tidak pernah melupakan komitmen kemanusiaan di tengah kepentingan ekonomi,” tambahnya.
Puncak kunjungan di Islamabad ditandai dengan penganugerahan Nishan-e-Pakistan, bintang kehormatan tertinggi negara tersebut, oleh Presiden Asif Ali Zardari kepada Prabowo.
Menurut Mahendra, penghargaan ini adalah pengakuan nyata peran Indonesia dalam stabilitas kawasan.
Nuklir dan BRICS
Usai dari Pakistan, Prabowo melanjutkan lawatan ke Moskow, Rusia, pada 10 Desember 2025 untuk bertemu Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin.
Mahendra menilai pertemuan ini sangat produktif, terutama terkait komitmen Rusia mendukung industri nasional dan kemungkinan kerja sama Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
“Isu PLTN ini bisa menjadi game changernbagi ketahanan energi Indonesia di masa depan. Putin tidak tanggung-tanggung memberikan sinyal dukungan,” analisis Mahendra.
Selain energi, dukungan Rusia terhadap keanggotaan penuh Indonesia di BRICS dan peran dalam Eurasian Economic Union (EAEU) dinilai Mahendra sebagai pembuka pintu kerja sama ekonomi yang lebih luas.
Undangan Balasan untuk Putin
Pertemuan di Kremlin ditutup dengan respons positif Putin atas undangan Prabowo untuk berkunjung ke Indonesia.
“Terima kasih, saya akan datang,” ujar Putin singkat, sebagaimana dikutip dari laporan pertemuan.
Mahendra Utama menutup analisisnya dengan menekankan bahwa sambutan hangat dari Presiden Zardari, PM Shehbaz Sharif, hingga Presiden Putin menunjukkan posisi tawar Indonesia yang kuat.
“Ini bukti bahwa Indonesia dipandang serius sebagai mitra strategis dan punya tempat terhormat di meja perundingan global,” pungkas Mahendra.
Baca juga : Strategi Prabowo Atasi Pengangguran: Terobosan Nyata di Tengah Tantangan Global
