Lappung – Produksi beras menurun Lampung bersiap antisipasi gejolak harga.
Pemerintah Provinsi Lampung bergerak cepat dalam merespons potensi kenaikan harga beras yang dipicu oleh penurunan produksi di tahun 2024.
Baca juga : Inflasi Lampung Mereda, Harga Pangan Terkendali
Langkah ini diambil menyusul laporan Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi, Nyoto Suwignyo, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, Senin, 28 Oktober 2024.
Dalam Rakor tersebut, Nyoto mengungkapkan bahwa total produksi beras dari Januari hingga Desember 2024 diperkirakan mencapai 30,34 juta ton.
Atau turun sekitar 760 ribu ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan ini dinilai signifikan dan dikhawatirkan dapat menyebabkan kenaikan harga beras menjelang akhir tahun.
“Penurunan produksi ini memang menjadi perhatian utama, khususnya dalam menjaga kestabilan harga dan ketersediaan beras di pasar.
“Kami meminta pemerintah daerah bersama-sama mengantisipasi potensi kenaikan harga ini,” ungkap Nyoto dalam pemaparannya.
Baca juga : Inflasi Menggerus Kantong Warga Lampung, Pendidikan Jadi Beban Tambahan
Produksi Beras Menurun Lampung Bersiap Antisipasi Gejolak Harga
Merespons situasi tersebut, Inspektur Provinsi Lampung, Fredy, yang hadir secara daring dari Ruang Command Center Dinas Kominfotik Lampung, menyatakan bahwa Lampung akan segera merancang strategi pengendalian harga.
Hingga memastikan ketersediaan pasokan beras tetap terjaga di berbagai wilayah.
“Pemprov Lampung sangat serius menangani isu ini. Kami akan bekerja sama dengan semua pemangku kepentingan, termasuk Bulog.
“Tak lain guna memastikan beras di pasaran tetap tersedia dan harganya terjangkau,” ujar Fredy.
Komoditas Pangan Utama Jadi Fokus
Selain beras, Mendagri Tito Karnavian dalam Rakor tersebut juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga untuk beberapa komoditas pangan utama lainnya.
Yaitu, bawang merah, daging ayam ras, telur ayam ras, minyak goreng, dan jagung.
Baca juga : 4 Komoditas Jadi Fokus Pengendalian Inflasi di Lampung Hingga 2024
Kelima komoditas ini dianggap sebagai penentu utama inflasi, khususnya di sektor pangan.
“Kenaikan harga pada kelompok makanan dan minuman sangat rawan menimbulkan inflasi yang lebih tinggi.
“Oleh karena itu, setiap daerah, termasuk Lampung, diminta fokus pada stabilitas komoditas pangan ini,” ujar Tito.
Sementara, Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa inflasi di awal pemerintahan baru saat ini berada di level 1,84 persen (year-on-year).
Sebuah angka yang relatif stabil meski ada potensi gejolak harga pada akhir tahun.
“Di tengah transisi pemerintahan, pengendalian inflasi cukup baik, namun kita tetap perlu waspada,” tandasnya.
Dengan langkah-langkah antisipasi ini, diharapkan Lampung dapat menghindari lonjakan harga yang bisa memberatkan masyarakat.
Pemerintah juga akan meningkatkan edukasi dan pengawasan di pasar-pasar tradisional, memastikan pedagang mengikuti regulasi harga dan tidak menaikkan harga secara berlebihan.
Baca juga : Inflasi Lampung Agustus 2024: Beras dan Rokok Jadi Pendorong Utama
