Lappung – Menjelang pergantian tahun dari 2025 ke 2026, Pemerhati Pembangunan, Mahendra Utama, mengajak seluruh elemen pemerintah dan masyarakat untuk mengevaluasi kembali arah pembangunan daerah dan nasional.
Baca juga : Di Bawah Langit Merah Kemakmuran, Karya: Mahendra Utama
Menurutnya, indikator kemajuan bangsa tidak bisa hanya dilihat dari deretan infrastruktur fisik semata, melainkan dampak nyatanya bagi masyarakat lapisan bawah.
Dalam refleksi akhir tahunnya, Mahendra menyoroti bahwa euforia pergantian tahun sering kali diiringi perasaan campur aduk antara rasa syukur dan kegelisahan atas berbagai pekerjaan rumah (PR) yang belum tuntas.
“Selama bertahun-tahun mengamati dinamika pembangunan, saya semakin yakin bahwa kemajuan sejati bukan soal berapa banyak jalan tol yang terbangun atau berapa persen angka pertumbuhan ekonomi.
“Itu penting, tapi bukan segalanya,” tegas Mahendra dalam keterangannya, Kamis, 25 Desember 2025.
Mahendra, yang juga dikenal sebagai Eksponen 98, menegaskan bahwa tolok ukur pembangunan yang berhasil sebenarnya sederhana.
Indikator utamanya adalah aksesibilitas layanan dasar bagi rakyat kecil.
“Pertanyaannya, apakah rakyat kecil sudah merasakan manfaatnya? Apakah anak-anak di pelosok bisa sekolah dengan layak?
“Apakah yang sakit bisa berobat tanpa harus berhutang? Kalau jawabannya belum, berarti pekerjaan kita masih panjang,” ujarnya.
Momentum Natal dan Kemanusiaan
Selain menyoroti aspek pembangunan fisik dan ekonomi, Mahendra juga menyampaikan ucapan selamat Natal bagi umat Kristiani.
Baca juga : Potensi Ekonomi Lampung yang Menunggu Sentuhan
Ia menilai momen Natal memiliki relevansi kuat sebagai pengingat nilai-nilai kemanusiaan yang kerap terlupakan di tengah ambisi pembangunan.
“Natal mengajarkan tentang kasih dan kerendahan hati. Di tengah perbedaan suku dan latar belakang, semangat ini mengingatkan bahwa kita satu bangsa.
“Persatuan terjadi bukan karena kita sama, tapi karena kita bisa merayakan perbedaan dengan damai,” tuturnya.
Tantangan Realistis 2026
Menatap tahun 2026, Mahendra mengingatkan agar publik tidak terjebak pada janji-janji manis pergantian tahun yang tidak realistis.
Ia memprediksi tantangan ke depan masih cukup berat, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, isu lingkungan, hingga kesenjangan sosial.
Oleh karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi nyata antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil.
“Pemerintah punya tanggung jawab, swasta punya peran, dan masyarakat tidak bisa cuma jadi penonton.
“Kalau semua pihak duduk bersama dengan niat tulus, bukan sekadar seremonial, banyak hal bisa kita perbaiki,” tegas Mahendra.
Ia berharap tahun 2026 dapat menjadi momentum bagi semua pihak untuk lebih produktif dan peduli pada sesama.
Baca juga : Peta Kekuatan Ekonomi 5 Kota Besar Sumatera: Medan, Batam, dan Palembang Memimpin Pertumbuhan





Lappung Media Network