Lappung – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi momentum krusial untuk merefleksikan peran strategis TNI sebagai perisai kedaulatan Nusantara.
Menurut Eksponen 98, Mahendra Utama, perayaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan tonggak penting untuk mempertegas komitmen transformasi TNI dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Baca juga : Danang: Pendekar Hukum dari Surabaya
“Di usia delapan dekade, TNI tidak hanya dilihat dari kekuatan alutsistanya, tetapi bagaimana ia terus menjadi benteng pertahanan yang lahir dari rakyat dan mengabdi untuk rakyat,” ujar Mahendra Utama, Minggu, 5 Oktober 2025.
Mahendra menyoroti visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, “TNI Prima – TNI Rakyat: Indonesia Maju”, sebagai arah kebijakan yang relevan.
Visi “TNI Prima” yang merupakan akronim dari Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif dinilai sebagai jawaban konkret atas dinamika ancaman global dan domestik.
“Visi TNI Prima adalah peta jalan yang jelas. Profesionalisme prajurit harus diimbangi dengan kemampuan responsif terhadap situasi darurat, integrasi antar-matra yang solid, serta penguasaan teknologi modern dan kemampuan beradaptasi yang tinggi,” jelasnya.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi Indonesia kini tidak lagi sebatas ancaman konvensional. Isu-isu seperti perang siber (cyber warfare), pencurian sumber daya alam di laut, hingga penyelundupan ilegal adalah ancaman nyata yang menggerogoti kedaulatan dan ekonomi negara.
Mahendra mengamini pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan sebelumnya, yang menyebut bahwa kekayaan alam Indonesia telah menjadi incaran pihak asing selama ratusan tahun.
Baca juga : Demokrasi dalam Bayangan Shutdown
“Peringatan Presiden Prabowo itu sangat relevan. Tugas TNI di era modern adalah memastikan setiap jengkal wilayah dan kekayaan alam kita aman. Inilah wujud nyata dari TNI sebagai perisai nusantara,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa modernisasi alutsista harus diimbungi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Prajurit TNI diharapkan tidak hanya setia pada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, tetapi juga melek teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi pertahanan global.
“Tantangannya memang tidak mudah, namun komitmen pemerintah dan seluruh elemen bangsa akan menjadi energi bagi TNI,” kata Mahendra.
Pada perayaan HUT ke-80 ini, ia berharap TNI dapat terus memperkuat soliditas internal, meningkatkan kepercayaan publik, dan meneguhkan posisinya sebagai benteng pertahanan negara yang kokoh dan dicintai rakyatnya.
“Doa terbaik dari seluruh rakyat Indonesia menyertai setiap langkah prajurit. Semoga TNI semakin solid, profesional, dan tetap menjadi penjaga setia kedaulatan Indonesia,” tutupnya.
Baca juga : Hukum Dikalahkan Sinyal HP





Lappung Media Network