Lappung – Puisi Sumpah Setiaku Untuk Ibu Pertiwi adalah sebuah dialog spiritual yang intim antara sang penyair dengan Tuhan.
Paragraf-paragraf awal menggambarkan sebuah momen perenungan yang mendalam, di mana sang “aku” berada dalam kondisi rapuh dan lelah.
Baca juga : Sang Pelurus Asam Pucuk, Puisi untuk Guru Besar PTPN
Ia menyadari kesalahannya di masa lalu, yakni merasa pongah, terlalu mengandalkan rencana dan logika diri sendiri, hingga melupakan Tuhan dalam setiap langkahnya.
Pengakuan ini membawanya pada kesadaran akan ketidakberdayaannya sebagai manusia.
Kegelisahannya bukan hanya tentang masalah pribadi, tetapi juga meluas pada kekhawatiran terhadap masa depan anak, istri, sahabat, dan terutama kondisi bangsanya yang digambarkan “terus saja berdarah meski tak sedang perang”.
Titik terendah inilah yang menjadi awal dari penyerahan dirinya secara total kepada takdir dan kehendak Tuhan.
Baca juga : Jejakmu di Negeri Hukum
Setelah mencapai puncak kepasrahan, puisi ini bertransformasi menjadi sebuah doa permohonan dan sumpah untuk mengabdikan sisa hidupnya.
Sang penyair tidak lagi meminta kebahagiaan atau kekuatan untuk dirinya sendiri, melainkan memohon agar dijadikan “alat” yang berguna bagi sesama dan Ibu Pertiwi.
Ia meminta diajarkan tanggung jawab, kesabaran, dan keikhlasan untuk menjalankan misi suci di dunia.
Puncaknya adalah permohonan agar ia tidak dipanggil pulang sebelum benar-benar mampu memberi manfaat dan menjadi teladan bagi bangsanya.
Puisi ini ditutup dengan pernyataan cinta yang tulus kepada Sang Pencipta, di mana tujuan akhirnya bukanlah surga atau pahala, melainkan perjumpaan itu sendiri.
Baca juga : Pahlawan dalam Sunyi
Dengan demikian, puisi ini merupakan sebuah perjalanan dari kejatuhan personal menuju komitmen luhur untuk bangsa yang didasari oleh spiritualitas yang mendalam.
Sumpah Setiaku Untuk Ibu Pertiwi
Karya: Singo Geni
Tuhan…
Hari ini aku berlabuh di Bogor,
sebuah kota basah dan sunyi.
Aku duduk,
sendiri,
bersama segelas kopi yang pelan-pelan mendingin —
dan sebuah hati yang tak lagi tahu caranya berpura-pura kuat.
Aku berpikir…
bukan tentang diriku,
tapi tentang anakku yang akan tumbuh di dunia yang makin gaduh,
tentang istriku yang memeluk duka dengan diam,
tentang sahabatku yang mulai letih,
dan tentang Bangsaku —
yang terus saja berdarah meski tak sedang perang.
Tuhan…
Aku mengaku.
Kemarin aku pernah menggantikan-Mu di dalam kepalaku.
Langkahku pongah.
Ucapanku penuh hitung-hitungan.
Aku percaya pada rencana,
tapi melupakan-Mu dalam doaku.
Dan akibatnya…
aku tersesat dalam terangnya dunia.
Tuhan…
Aku tuli, aku bisu, aku buta,
aku bodoh, aku tak punya daya —
aku tak punya kuasa atas satu detak pun dari jantungku sendiri.
Maka kali ini,
biarkan ruhku mendekat pada-Mu,
bukan untuk sejenak,
tapi untuk selama-lamanya.
Aku terima semua yang Kau takdirkan.
Sekalipun langit runtuh,
sekalipun sahabat menjauh,
sekalipun dunia menyebutku gagal —
asal Engkau masih bersamaku,
aku akan tetap berdiri!
Tuhan…
Ajarkan aku tentang sabar
yang tak lelah menunggu cahaya,
tentang ikhlas
yang tak minta dilihat,
tentang keberanian
untuk mencintai takdir meski perih.
Tuhan…
Izinkan aku tenggelam dalam pusara-Mu
jika itu cara agar aku lebih dekat.
Ajarkan aku tanggung jawab —
untuk anakku,
istriku,
bangsaku,
dan semua yang Kau titipkan di pundakku ini.
Tuhan…
Jangan ambil ruhku
sebelum aku benar-benar berguna.
Bukan hanya untuk pujian,
bukan hanya untuk plakat atau pangkat —
Tapi untuk sesama,
untuk bumi tempatku dilahirkan,
untuk bangsa yang terlalu lama haus keteladanan.
Tuhan…
Jadikan aku alat-Mu.
Jadikan mataku sebagai cahaya-Mu,
telingaku sebagai penjaga kebenaran-Mu,
tanganku sebagai penjaga keadilan-Mu.
Jadikan aku makhluk-Mu yang tak terpisah
oleh ruang, oleh waktu, oleh kepentingan.
Tuhan…
Tugaskan aku!
Berikan aku misi suci di dunia ini —
biar aku hidup bukan hanya sekadar hidup.
Tanamkan dalam dadaku
kesetiaan yang tak berpaling,
kejujuran yang tak goyah,
dan tanggung jawab yang tetap berdiri
meski angin zaman memukul keras!
Tuhan…
Setelah semua tugas rampung —
Panggil aku pulang.
Aku tak peduli tempatku neraka atau surga,
karena rinduku bukan pada ganjaran,
tapi pada perjumpaan.
Aku tak ingin hadiah-Mu…
Aku hanya ingin Engkau.
Bogor, 25 Juli 2025
Baca juga : Senja Kopi di Pelukan Malang





Lappung Media Network