Lappung
Lappung Media Network Media Network
Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    No Result
    View All Result
    Lappung
    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai

    Home » Gaya Hidup » Puisi Sumpah Setiaku Untuk Ibu Pertiwi, Karya Singo Geni

    Puisi Sumpah Setiaku Untuk Ibu Pertiwi, Karya Singo Geni

    Irzon Dwi Darma by Irzon Dwi Darma
    26/07/2025
    in Gaya Hidup
    Puisi Sumpah Setiaku Untuk Ibu Pertiwi, Karya Singo Geni

    Gunung Salak. Foto: Wikipedia

    Share on FacebookShare on Twitter

    Lappung – Puisi Sumpah Setiaku Untuk Ibu Pertiwi adalah sebuah dialog spiritual yang intim antara sang penyair dengan Tuhan.

    Paragraf-paragraf awal menggambarkan sebuah momen perenungan yang mendalam, di mana sang “aku” berada dalam kondisi rapuh dan lelah.

    Baca juga : Sang Pelurus Asam Pucuk, Puisi untuk Guru Besar PTPN

    Ia menyadari kesalahannya di masa lalu, yakni merasa pongah, terlalu mengandalkan rencana dan logika diri sendiri, hingga melupakan Tuhan dalam setiap langkahnya.

    Pengakuan ini membawanya pada kesadaran akan ketidakberdayaannya sebagai manusia.

    Kegelisahannya bukan hanya tentang masalah pribadi, tetapi juga meluas pada kekhawatiran terhadap masa depan anak, istri, sahabat, dan terutama kondisi bangsanya yang digambarkan “terus saja berdarah meski tak sedang perang”.

    Titik terendah inilah yang menjadi awal dari penyerahan dirinya secara total kepada takdir dan kehendak Tuhan.

    Baca juga : Jejakmu di Negeri Hukum

    Setelah mencapai puncak kepasrahan, puisi ini bertransformasi menjadi sebuah doa permohonan dan sumpah untuk mengabdikan sisa hidupnya.

    Sang penyair tidak lagi meminta kebahagiaan atau kekuatan untuk dirinya sendiri, melainkan memohon agar dijadikan “alat” yang berguna bagi sesama dan Ibu Pertiwi.

    Ia meminta diajarkan tanggung jawab, kesabaran, dan keikhlasan untuk menjalankan misi suci di dunia.

    Puncaknya adalah permohonan agar ia tidak dipanggil pulang sebelum benar-benar mampu memberi manfaat dan menjadi teladan bagi bangsanya.

    Puisi ini ditutup dengan pernyataan cinta yang tulus kepada Sang Pencipta, di mana tujuan akhirnya bukanlah surga atau pahala, melainkan perjumpaan itu sendiri.

    Baca juga : Pahlawan dalam Sunyi

    Dengan demikian, puisi ini merupakan sebuah perjalanan dari kejatuhan personal menuju komitmen luhur untuk bangsa yang didasari oleh spiritualitas yang mendalam.

    Sumpah Setiaku Untuk Ibu Pertiwi

    Karya: Singo Geni

     

    Tuhan…

    Hari ini aku berlabuh di Bogor,

    sebuah kota basah dan sunyi.

    Aku duduk,

    sendiri,

    bersama segelas kopi yang pelan-pelan mendingin —

    dan sebuah hati yang tak lagi tahu caranya berpura-pura kuat.

     

    Aku berpikir…

    bukan tentang diriku,

    tapi tentang anakku yang akan tumbuh di dunia yang makin gaduh,

    tentang istriku yang memeluk duka dengan diam,

    tentang sahabatku yang mulai letih,

    dan tentang Bangsaku —

    yang terus saja berdarah meski tak sedang perang.

     

    Tuhan…

    Aku mengaku.

    Kemarin aku pernah menggantikan-Mu di dalam kepalaku.

    Langkahku pongah.

    Ucapanku penuh hitung-hitungan.

    Aku percaya pada rencana,

    tapi melupakan-Mu dalam doaku.

     

    Dan akibatnya…

    aku tersesat dalam terangnya dunia.

     

    Tuhan…

    Aku tuli, aku bisu, aku buta,

    aku bodoh, aku tak punya daya —

    aku tak punya kuasa atas satu detak pun dari jantungku sendiri.

    Maka kali ini,

    biarkan ruhku mendekat pada-Mu,

    bukan untuk sejenak,

    tapi untuk selama-lamanya.

     

    Aku terima semua yang Kau takdirkan.

    Sekalipun langit runtuh,

    sekalipun sahabat menjauh,

    sekalipun dunia menyebutku gagal —

    asal Engkau masih bersamaku,

    aku akan tetap berdiri!

     

    Tuhan…

    Ajarkan aku tentang sabar

    yang tak lelah menunggu cahaya,

    tentang ikhlas

    yang tak minta dilihat,

    tentang keberanian

    untuk mencintai takdir meski perih.

     

    Tuhan…

    Izinkan aku tenggelam dalam pusara-Mu

    jika itu cara agar aku lebih dekat.

    Ajarkan aku tanggung jawab —

    untuk anakku,

    istriku,

    bangsaku,

    dan semua yang Kau titipkan di pundakku ini.

     

    Tuhan…

    Jangan ambil ruhku

    sebelum aku benar-benar berguna.

    Bukan hanya untuk pujian,

    bukan hanya untuk plakat atau pangkat —

    Tapi untuk sesama,

    untuk bumi tempatku dilahirkan,

    untuk bangsa yang terlalu lama haus keteladanan.

     

    Tuhan…

    Jadikan aku alat-Mu.

    Jadikan mataku sebagai cahaya-Mu,

    telingaku sebagai penjaga kebenaran-Mu,

    tanganku sebagai penjaga keadilan-Mu.

    Jadikan aku makhluk-Mu yang tak terpisah

    oleh ruang, oleh waktu, oleh kepentingan.

     

    Tuhan…

    Tugaskan aku!

    Berikan aku misi suci di dunia ini —

    biar aku hidup bukan hanya sekadar hidup.

    Tanamkan dalam dadaku

    kesetiaan yang tak berpaling,

    kejujuran yang tak goyah,

    dan tanggung jawab yang tetap berdiri

    meski angin zaman memukul keras!

     

    Tuhan…

    Setelah semua tugas rampung —

    Panggil aku pulang.

    Aku tak peduli tempatku neraka atau surga,

    karena rinduku bukan pada ganjaran,

    tapi pada perjumpaan.

     

    Aku tak ingin hadiah-Mu…

    Aku hanya ingin Engkau.

     

    Bogor, 25 Juli 2025

    Baca juga : Senja Kopi di Pelukan Malang

    Tags: Cinta Tanah AirDoaIbu PertiwiKeteladananPuisiPuisi MotivasiPuisi NasionalismePuisi PatriotikPuisi ReligiusPuisi SpiritualRenunganSastra IndonesiaSingo GeniSumpah Setiaku Untuk Ibu PertiwiTanggung Jawab
    ShareTweetSendShare
    Previous Post

    Biaya Ukur Lahan SGC Rp10 Miliar, KNPI Lampung Buka Penggalangan Dana

    Next Post

    Seporsi Makanan Seharga Rumah? Ini Daftarnya

    Related Posts

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama
    Gaya Hidup

    Bandar Lampung 2036: Menanam Ruko, Memanen Hulu, Karya: Mahendra Utama

    11/03/2026
    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung
    Gaya Hidup

    Lebih Efisien ke Kuala Lumpur atau Jakarta? Ini Analisis Rute Umroh dan Perjalanan dari Lampung

    22/02/2026
    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai
    Gaya Hidup

    Satu Tahun Khidmat: Embun bagi Bumi Ruwa Jurai

    20/02/2026
    Load More

    Populer Minggu Ini

    • Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi

      Kelapa Lampung: Dari Komoditas Tradisional ke Hilirisasi Bernilai Tinggi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kakanwil BPN Sumsel Sambangi Kantah Banyuasin

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Selamat Tinggal Tiket Manual, ASDP Targetkan 100 Persen Digital Oktober Ini

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Sering Sebut Galer? Selamat, Istilahmu Kini Resmi Masuk KBBI

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Kantor Pertanahan Banyuasin Kobarkan Gerakan Gemapatas 2025

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Mayjen Kristomei Sianturi, Putra Kotabumi Lampung, Jabat Pangdam Radin Inten

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Bisnis Dan Kemitraan
    • Disclaimer
    • Term Of Service
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Lappung

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved

    No Result
    View All Result
    • APH
    • Budaya
    • Ekonomi
    • Modus
    • Gaya Hidup
    • Metropolitan
    • Pemerintahan
    • Saburai
    Lappung Media Network Lappung Media Network
  • Lappung
  • Lappung Balam
  • Lappung Bandar Jaya
  • Lappung Baradatu
  • Lappung Investigasi
  • Lappung Kalianda
  • Lappung Kotabumi
  • Lappung Literasi
  • Lappung Metro
  • Lappung Mahkamah
  • Lappung Menggala
  • Lappung Pekon
  • Lappung Pesawaran
  • Lappung Pringsewu
  • Lappung Politik
  • Lappung Tanggamus
  • Lihat Semua Media Network →

    © 2023 Lappung.com All Right Reserved