Lappung – Puisi Syukur Jalan Raya karya Mahendra Utama.
Puisi Syukur Jalan Raya adalah refleksi spiritual dan emosional seorang ayah dan kepala keluarga yang melakukan perjalanan darat lintas kota bersama istri dan 2 anaknya.
Baca juga : Sang Pelurus Asam Pucuk, Puisi untuk Guru Besar PTPN
Dari Bandarlampung hingga Banyuwangi, setiap persinggahan menjadi simbol dari kenangan, rasa syukur, dan kebersamaan yang semakin erat dalam lingkup keluarga.
Mahendra Utama tidak hanya mendeskripsikan rute perjalanan fisik, tetapi juga menghadirkan pengalaman batin yang penuh makna, di mana alam, kota, dan manusia bersatu dalam harmoni ciptaan Tuhan.
Setiap bait mengalirkan rasa syukur mendalam kepada Allah SWT atas nikmat hidup, keluarga, dan keindahan Indonesia.
Baca juga : Senja Kopi di Pelukan Malang
Gunung Raung yang berdiri megah, aroma kopi Ijen, hingga asap cerutu Jember bukan sekadar objek perjalanan, tetapi menjadi simbol keindahan hidup yang patut disyukuri.
Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungi arti perjalanan sebagai anugerah, bukan hanya sebagai perpindahan ruang, tetapi juga penguatan ikatan kasih dan kesadaran spiritual.
Di akhir puisi, Mahendra menutup dengan pujian penuh takzim kepada Tuhan, seolah menyampaikan bahwa seluruh kisah ini adalah titipan dan karunia dari Sang Maha Pengatur Takdir.
Baca juga : Affan, Lurus Jalan, Terang Laku
Syukur Jalan Raya
Karya: Mahendra Utama
Dengan istri setia, dua cahaya mata,
Arya Bangsa Satyamahendra, Anindra Citra Artika,
Kami meluncur dari Bandar Lampung nan jauh,
Di bulan Juni, menyambut pagi baru.
Depok menyambut, Solo merangkul,
Surabaya, empat malam, menjadi rumah kedua.
Jembatan Suramadu, megah di bangun senja,
Menyambangi Bangkalan, menatap samudra.
Malang yang sejuk, sepoi menyapa jiwa,
Kota apel, kenangan bertambah di dada.
Lalu Jember membentang, jalan berliku,
Menuju Banyuwangi, impian yang selalu baru.
Kokoon Banyuwangi, satu malam beristirah,
Pagi menyingsing, hadiah terindah terpampang nyata:
Gunung Raung perkasa, teguh di ufuk timur,
Berkabut putih, Maha Karya Sang Pencipta alam semesta.
Di pelataran hangat, seruput Kopi Ijen,
Aroma harum, nikmat tiada tandingan.
Asap Cerutu Jember, melayang perlahan,
Menyatu dengan syukur, dalam hening pagi nan jernih.
MasyaAllah… Betapa sempurna karunia-Mu,
Tabarakallah… Kekayaan cinta yang Kau tuang ruah.
Perjalanan ini, ikatan keluarga yang kian rajut,
Pemandangan menakjubkan, napas kehidupan yang terus mengalir.
Syukur, ya Rabb, untuk setiap langkah kaki,
Untuk tawa anak-anak, hangatnya sang istri tercinta.
Untuk jalan raya yang membawa kami menjelajah,
Untuk gunung, kopi, cerutu, dan semua rasa.
Nikmat-Mu, ya Allah, bagai samudra tak bertepi,
Kami, hamba kecil, hanya mampu memuji.
Terima kasih atas perjalanan penuh makna ini,
Atas berkah keluarga, dan kebahagiaan sejati.
Surabaya, Malang, Banyuwangi nan permai,
Tercatat abadi dalam kalbu kami.
Segala puji hanya bagi-Mu, Tuhan Semesta Alam,
Pengukir kisah indah, Mahendra Utama dan sang keluarga.
Baca juga : Seratus Hari Cahaya Nusantara





Lappung Media Network